Cemburu kpd Penghasilan Perusahaan
Beberapa waktu lalu saya pernah mendengar keluhan seorang teman ttg gaji/upahnya yg dianggap kecil, tidak sesuai dengan besarnya nama perusahaan atau keadaan majikannya yg terbilang kaya raya. Padahal bekerja di perusahaan besar atau kepada majikan yang kaya raya adalah incaran banyak orang. Tapi ternyata itu semua tidaklah berpengaruh besar pada upah pegawai.
Teman saya pernah mengeluh, “Kenapa gaji saya cuma segini-gini aja? Padahal majikan/perusahaan saya penghasilannya mencapai puluhan juta rupiah/bulan! Tapi kecil sekali menggaji pegawainya!”
Kita harus menyadari bahwa upah seorang pegawai itu tidak diukur dari omset/penghasilan seorang majikan atau perusahaan, melainkan diukur dari standar kepegawaian.
Contohnya klo kita bekerja sebagai tukang sapu atau pembantu, kalau pun penghasilan majikan/perusahaan kita mencapai ratusan juta rupiah/bulan, tidak mungkin mengupah tukang sapu atau pembantu hingga jutaan rupiah/perbulan! Yaa… tetap saja upah standar tukang sapu atau pembantu yang sebatas ratusan ribu rupiah/bulan, karena kontribusi kita memang cuma sebatas tukang sapu atau pembantu, bukan investor!
Sebaliknya, jika suatu saat perusahaan/majikan kita mengalami kerugian, tetap saja upah pegawai tidak boleh diganggu gugat sedikit pun. Sebab yang namanya pegawai tidak bertanggung-jawab terhadap penghasilan, melainkan sebatas pekerjaan dan tugas-tugasnya.
Kalau kita mau dibayar dengan gaji yg tinggi, ya tentunya kontribusi dan posisi kita yg harus disesuaikan. Sebab, walau pun perusahan besar klo posisi dan kontribusi kita kecil, ya kecil juga upahnya. Sebaliknya, kendati perusahaan kecil klo kontribusi atau posisi kita besar tentu besar pula bayarannya.
Semoga menjadi bahan renungan buat kita semua
![]()





# Narti: Yup, bener Bu! Makasih atas komentarnya
# Umu: Iya jg sich Bu, mungkin dg meningkatkan pelayan bisa menjadi salah satu cara untuk mendapatkan perhatian lebih dari sang majikan. Bisa-bisa diangkat menjadi menantunya
Terima kasih